Idulfitri Senantiasa Berarti Tanpa Gambar Keluarga
Gaya Hidup TeknologiWanitaindonesia.co - Idulfitri sepatutnya dapat jadi momen untuk memantulkan macam wujud keluarga ternyata melanggengkan asumsi imajiner pertanyaan keluarga senang.Telah sebagian tahun belum lama ini, aku menghabiskan Idulfitri cuma berdua dengan bunda aku. Kadangkala terdapat sebagian keluarga yang tiba, tetapi lebih kerap tidak. Kita tidak memiliki adat- istiadat spesial untuk memperingati Idulfitri, tercantum gambar keluarga. Hal itu sempat membuat aku merasa sedemikian itu sedih dan kesepian tiap kali Idulfitri datang.
Gimana tidak. Semenjak kecil, aku selalu dicekoki potret jika Idulfitri yang mengasyikkan cuma dapat dipunyai oleh keluarga yang besar dan utuh. Beranjak anak muda, paparan media sosial dan media yang lain membuat asumsi itu terasa terus menjadi jelas. Sebaliknya rancangan keluarga sempurna itu sendiri sangat bermasalah sebab kita berkembang besar di area normatif yang mencekoki jika keluarga itu wajib memiliki jumlah yang komplit, besar, dan sebentuk.
Media sosial yang selalu dibanjiri gambar keluarga sahabat dan ikhwan dengan bentuk yang seragam—keluarga besar komplit dengan eyang, nenek, om, bibi dan para buah hatinya antre apik mesem ke arah kamera hingga penuhi satu frame foto—kemudian jadi panorama alam tidak asing tiap Idul Fitri datang.
Bukan hanya itu. Dari mulai promosi sereal di tv hingga perkataan harap maaf lahir hati dari berbagai lembaga pemerintah, Idulfitri selalu menunjukkan jargon kalau kehangatan hari raya cuma dapat diperoleh jika kita memiliki keluarga besar yang dapat kita datangi. Hal ini ikut melanggengkan asumsi imajiner pertanyaan keluarga sempurna yang mengecilkan keluarga- keluarga lain dengan situasi berlainan.
Sialnya, paparan dari seluruh itu bersamaan dengan masa kala orang berumur aku terkini berpisah. Berbagai desakan dan glorifikasi pertanyaan Idulfitri membuat aku terus menjadi merasa sedih dan terasingkan dari arti Idulfitri yang“ wajar”.
Aku luang jengkel pada bunda aku sebab tidak dapat“ membagikan” kemeriahan hari rayaLseperti lebarannya sahabat aku. Walhasil, pada satu Idulfitri sebagian tahun lalu, aku memforsir bunda aku gambar berdua dengan menggunakan baju tertutup. Apalagi aku telah mempersiapkan tongsis( gayung bergaya- gaya) nama lain gayung jauh yang dapat menolong kita mengutip gambar dari jarak yang cukup jauh, sebab kita cuma berdua dan tidak terdapat yang dapat mengutip gambar kita.
Gambar itu sedang aku simpan. Cukup baik untuk diposting di Instagram Story pada durasi itu. Tetapi belum lama aku mengetahui, hasrat aku sangat tidak agung. Aku mau memiliki gambar keluarga durasi Idulfitri cuma supaya aku ditatap wajar dan seperti sahabat aku mayoritas. Sementara itu, siapa yang membuat ketentuan jika Idulfitri belum legal tanpa gambar keluarga? Sepatutnya, Idulfitri jadi momen kita dapat silih mencintai dan berempati, bagus kepada diri sendiri ataupun banyak orang di dekat kita.
Momen Idulfitri untuk Memantulkan Macam Wujud Keluarga
Untuk mayoritas mukmin di Indonesia, Idulfitri merupakan momen yang lengket dan diidentikkan dengan arti kekeluargaan, terkumpul, dan bersilaturahmi. Sayangnya, sebab pembiakan wawasan pertanyaan keluarga sempurna yang telah terlanjur salah biasa, ditambah dengan realitas jika pada biasanya apa yang kita tampilkan di media sosial itu cuma yang bagus- bagusnya saja, Idulfitri jadi momen yang diglorifikasi, dengan gambar keluarga selaku salah satu alatnya.
Bukannya memaknai Idulfitri selaku hari kemenangan sehabis sukses melawan hawa hasrat sepanjang 30 hari, kita justru mengarah terobsesi untuk membuktikan jika situasi keluarga kita bagus ataupun apalagi lebih bagus dari keluarga orang lain. Aksi senyum ke arah kamera gunakan pakaian mukmin sebentuk itu bukan agunan jika keluarga besar kita sebahagia apa yang kita tampilkan di media sosial, bukan?
Aku serupa sekali tidak merasa cemburu sebab orang lain memiliki keluarga yang komplit dan serasi. Aku betul- betul senang untuk mereka. Persahabatan dan keakraban dampingi keluarga seperti itu pada faktanya merupakan hal yang sangat bagus dan menyenangkan apabila dapat dialami. Tetapi, kerutinan ini yang pula bisa jadi diakibatkan oleh Fear of Missing Out( FOMO) sehingga kita lalu menjajaki apa yang dicoba orang lain tanpa betul- betul menguasai dan mengutip esensinya, malah kebalikan dengan arti Idulfitri itu sendiri yang sepatutnya penuh kasih pada sesama.
Terdapat sebagian hal berarti yang bebas kita cermati dikala Idulfitri datang. Idulfitri sepatutnya jadi momentum kita untuk menyambut, memantulkan, dan mengampuni diri sendiri ataupun banyak orang di dekat kita. Salah satunya merupakan momentum untuk mulai membuka mata kita dan menghormati macam wujud keluarga.
Dapat terkumpul dalam keadaan komplit dan segar, dan dapat memiliki gambar keluarga, merupakan suatu hak istimewa yang tidak dipunyai seluruh orang. Itu merupakan hal yang pantas disyukuri. Tetapi itu tidak lalu membuat banyak orang yang memperingati Idulfitri dengan metode yang berlainan, ataupun dengan aransemen yang berlainan, jadi lebih kurang ataupun lebih kurang baik dari mereka yang dapat memperingati bersama keluarga.
Idulfitri sepatutnya jadi momentum kita untuk menyambut, memantulkan, dan mengampuni diri sendiri ataupun banyak orang di dekat kita. Salah satunya merupakan momentum untuk mulai membuka mata kita dan menghormati macam wujud keluarga.
Terlebih, pada suasana pandemi seperti sekarang, aktivasi kita terdesak wajib terbatas dan dibatasi supaya tidak memperparah keadaan. Hal ini pasti saja membuat banyak orang tidak dapat kembali dan mendatangi keluarga dan banyak orang terdekat.
Idulfitri sepatutnya jadi kepunyaan seluruh orang yang merayakannya. Begitu juga Tuhan yang selalu mengarahkan kebaikan umum dan inklusivitas, aku percaya itu pula merupakan hal terkecil yang dapat kita jalani untuk menolong banyak orang di dekat kita.
Jika Lebaranmu sepi dan hening seperti aku, janganlah berkecil batin. Sepanjang kebaikan untuk diri sendiri dan sesama selalu kamu simpan di dalam batin, hingga kamu tidak akan sempat betul- betul sendiri.
