Gudeg, Santapan Orang yang Naik Pangkat

Gudeg, Santapan Orang yang Naik Pangkat

Gudeg, Santapan Orang yang Naik Pangkat


Wanitaindonesia.co - Sekali mengikuti tutur Gudeg, apakah yang terlalui di isi kepala Kamu? Enak, manis dan enak, ataupun justru ribang Yogyakarta?

Ketahui kah Kamu kalau hidangan yang Kamu gemari ini kabarnya sudah dinikmati warga saat sebelum Kerajaan Yogyakarta berdiri?

Sejarahnya diawali dekat era ke- 16, kala Kerajaan Mataram mulai membuat peradabannya.

Para prajurit dan pekerja membabat Dasar Mentaok yang dipadati tumbuhan nangka, melinjo dan kelapa. Saking melimpahnya, mencuat ilham mencernanya jadi hidangan untuk penuhi keinginan pangan para pekerja.

Dari menggunakan nangka belia( gori) yang dipadu santan, dan gula merah yang dimasak di atas wajan besar dengan metode diaduk, terciptalah Gudeg. Tipe komplet dihidangkan bersama nasi, opor ayam, sambal goreng krecek, tahu- tempe bacem, lalu disiram kuah santan pekat( areh).

Asal muasal julukan Gudeg sendiri dari bahasa Jawa‘ hangudek’, yang berarti mengaduk.

Tidak menyudahi selaku santapan orang, Gudeg juga jadi kesukaan di area istana.

Merupakan novel kesusastraan Serat Centhini( 1814- 1823) yang menulis kehadiran nasi Gudeg selaku hidangan di Kerajaan Surakarta.

Di dalam Serat Jatno Hisworo pula dituturkan kalau Pakubuwana IX( 1861- 1893) sempat menyajikan kaum keelokan dengan Nasi Gudeg dan Nasi Liwet.

Istana Yogyakarta pula menjadikan Gudeg selaku salah satu menu harapan.

Kelainannya, Gudeg versi istana memakai materi kluwih dan sayur- mayur hijaunya mengenakan daun melinjo. Gudeg kesukaan Baginda Hamengkubuwono X sendiri merupakan tipe Gudeg Arai yang mengenakan bunga kelapa.

Terdapat 2 tipe Gudeg, ialah tipe kering dan tipe berair, dengan perbandingan yang terdapat pada cara memasak dan penyajiannya.

Tipe berair dimasak dengan kuah banyak dan mengarah dihidangkan dengan kuah santan yang banyak. Rasanya jadi lebih kokoh. Banyak ditemukan di beberapa Yogyakarta dan sekitaran Magelang, paling utama pedagang di pasar konvensional.

Sebaliknya Gudeg tipe kering wajib lewat cara penumisan sampai kering, sehingga lezat. Penyajiannya juga cuma sedikit diberi areh. Gudeg kering berkembang bersamaan melonjaknya atensi turis untuk menjadikannya buah tangan.

Yang manapun, kunci keberhasilannya terdapat pada penentuan gori yang banyak getahnya.

Tidak hanya daun asli yang dijadikan dasar dikala memasak Gudeg, sebetulnya warna akhir merah kecoklatan ikut didapat dari pulut gori itu sendiri. Cara memasak yang lama pula diperlukan untuk hasil prima. 


Load comments