Bagaimana Prediksi Prestasi Indonesia di Olimpiade 2020 Dalam Kacamata Antropologi Biologis?
Warta
Wanitaindonesia.co - Pesta olahraga negara-negara se-Asia yang berlangsung di Jakarta dan Palembang sudah ditutup Minggu (2/9/2018) malam. Sejak Asian Games 2018 dibuka pada tanggal 18 Agustus 2018 dengan Opening Ceremony yang meriah dan membius, Indonesia dinilai berhasil dalam penyelenggaraan.
Keberhasilan Indonesia juga dipersembahkan oleh para atlet, yang meraih 31 medali emas. Ini adalah pertama kali dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di Asian Games. Karena itu, yang kemudian membuat penasaran adalah, seperti apakah prospek prestasi atlet Indonesia ke depan, terutama ketika Olimpiade 2020 sudah menjelang.
Berikut ini gambaran prestasi atlet Indonesia lewat kacamata Antropologi Olahraga yang merupakan subdisiplin Antropologi Biologi yang dituliskan oleh Rusyad Adi Suriyanto dari laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah mada Yogyakarta.
Antropologi olahraga merupakan subdisiplin dalam antropologi biologis. Satu upaya dalam pengumpulan data antropologi biologis adalah metode antropometris. Data antropometris dapat dipakai sebagai pertimbangan seseorang untuk memilih cabang olahraga yang tepat dengan badannya.
Memerhatikan perolehan medali, khususnya emas, bagi Indonesia, di Asian Games 18 sudah dapat terbaca ragam cabang olahraga yang menyumbangkan medali. Umumnya medali-medali itu diperoleh dari cabang-cabang olahraga yang memanfaatkan kemungilan tubuh kita.
Persebaran rasial negara peserta Asian Games XVIII 2018 adalah Kaukasoid (meliputi negara-negara Timur Tengah, Persia, Asia Tengah dan Asia Selatan), Mongoloid meliputi negara-negara Asia Tenggara, Asia Timur Daratan dan Kepulauan. Khusus Indonesia, tidak hanya Mongoloid, tetapi juga Australomelanesoid.
Secara garis besar negara-negara daratan Asia terpilah dalam dua populasi. Di bagian barat adalah Kaukasoid dan bagian timur adalah Mongoloid. Variasi populasinya masih terlihat relatif jelas. Populasi Kaukasoid Asia relatif berbeda dengan Eropa dan Afrika Utara. Populasi Kaukasoid di antara negara-negara belahan barat Asia juga memperlihatkan variasi badannya. Populasi Mongoloid di antara negara-negara belahan timur Asia juga memperlihatkan variasi badannya. Variasi badan itu sangat dipengaruhi genetika dan lingkungannya. Lingkungan itu terutama terkait dengan bentang alam, letak garis lintang dan aspek-aspek lain yang sifatnya abiotik.
Ragam manusia itulah yang berlomba menggapai prestasi olah raga tertinggi dalam Asian Games XVIII kali ini. Mereka semua adalah satu kesatuan spesies Homo sapiens, yang bervariasi dalam subspesiesnya. Mereka berbeda-beda namun tetap satu. Unity in diversity.
Mongoloid Asia Tenggara adalah populasi yang relatif paling mungil badannya dibandingkan dengan populasi ras lainnya. Cabang olah raga itu meliputi kelompok olahraga bela diri (wushu, taekwondo, pencak silat dan karate), panjat dinding/ tebing, jetski, paralayang, downhill, angkat berat, dayung, tenis dan bulu tangkis).
Dominasi perolehan medali emas dari cabang-cabang olahraga bela diri untuk kontingen Indonesia menjadi begitu logis karena olahraga ini mempertandingkan keterampilan teknis individual dan kelompok dan berhadapan head to head berdasarkan kelas berat badan.
Demikian juga angkat berat yang berdasarkan kelas berat badan. Olahraga berdasarkan kecepatan dan ketangkasan juga masih bisa menyumbangkan emas, misalnya panjat dinding/ tebing.
Capaian prestasi kita jadi minor di cabang olahraga yang mengunggulkan postur badan. Cabang olahraga itu antara lain sepak bola, basket, volley, renang, atletik dan lain-lain sejenisnya. Di Asian Games XVIII, perolehan medali itu didominasi Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang.
Mengapa sesama populasi Mongoloid tiga negara itu bisa superior dibandingkan negara-negara populasi Mongoloid lain, bahkan negara-negara Kaukasoid belahan barat Asia?
Mereka adalah Mongoloid yang telah mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan dari kekayaan negaranya. Kondisi kesejahteraan (keterjaminan kualitas nutrisi, kesehatan dan fasilitas) dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan badannya. Metode dan teknologi pelatihan keolahragaan mereka telah berkembang sangat bagus setara negara-negara Eropa dan Amerika Utara.
Rata-rata postur badan mereka makin mendekati postur badan Kaukasoid Eropa dan Amerika Utara, meski relatif sulit melampauinya karena populasi rasial membawa juga gen tinggi badan. Tiga negara itu, khususnya Cina dan Jepang, merupakan pesaing berat Eropa dan Amerika di kompetisi renang internasional, khususnya Olimpiade.
Renang adalah salah satu cabang olahraga yang menyediakan perebutan medali terbanyak. Dalam olahraga renang tidak ada kontak fisik langsung di antara atlet, mereka adu kecepatan di lintasan masing-masing. Untuk sepak bola dan bola basket, mereka masih belum mampu mengungguli Eropa dan Amerika, di mana kontak fisik niscaya terjadi di lapangan. Karena itu postur relatif penting untuk olahraga ini, maka postur badan tinggi dan tegap membantu persaingan perebutan bola dan penjagaan lawan.
Negara-negara populasi Negroid Afrika juga bersemangat untuk bersaing dengan cabang-cabang olahraga dengan postur badan dapat menunjang prestasi. Populasi Negroid juga masih mendapat perhatian khalayak untuk atletik, khususnya lari.
Apakah capaian prestasi Indonesia di Asian Games XVIII saat ini bisa meningkatkan capaian prestasi kita di Olimpiade 2020 di Tokyo yang akan datang? Tentu saja bisa!
Yang perlu jadi perhatian adalah apakah semua cabang olahraga yang menyumbangkan medali kita di Asian Games XVIII dipertandingkan dalam Olimpiade 2020? Pemangku kepentingan yang terkait cabang-cabang olahraga yang menyumbangkan medali, khususnya emas, yang dipertandingkan di Olimpiade harus mulai menyiapkan atletnya makin tekun berlatih. (wi)
